Kitab, Mushhaf,
Qur′ān
Al-Qur′ān
hadir di tengah perkembangan tradisi tulisan yang semakin matang. Ketika Nabi
Muhammad mulai menerima dan menyebarkan wahyu, konsep “kitab” dan juga “kitab
suci” sudah cukup dikenal. Tidaklah mengherankan jika kita menjumpai banyak sekali
kata “kitab” dalam al-Qur′ān.[1] Kendati
demikian, “kitab” (al-kitab) yang dimaksud al-Qur′ān masih terbatas pada
makna “tulisan” secara umum. Ia tidak merujuk kepada satu kesatuan kitab suci
yang utuh. Pada masa Nabi hidup, sangat tidak masuk akal membayangkan sebuah
kitab suci yang utuh, karena kelengkapan wahyu sangat bergantung kepada usia
Nabi.
Istilah “al-Qur′ān”
sendiri melewati proses yang panjang sebelum kitab suci itu dinamakan demikian.
Jalāl al-Dīn al-Suyūthī, dalam al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur′ān, menjelaskan
bahwa kaum Muslim sepeninggal Nabi berbeda pendapat tentang bagaimana sebaiknya
menyebut Kitab Suci mereka. Sebagian mereka mengusulkan nama “Injil” (merujuk
pada tradisi Kristen), sebagian lain mengusulkan nama “Sifr” (merujuk pada
tradisi Yahudi). 'Abdullāh ibn Mas’ūd, salah seorang sahabat terdekat Nabi
mengusulkan nama “mushhaf.”[2]
Usulan 'Abdullāh
ibn Mas’ūd ini kemudian banyak digunakan oleh kaum Muslim untuk menyebut kitab
suci mereka. Istilah “mushhaf” sebetulnya lebih merupakan kata generik
ketimbang teknik. Kata ini diambil dari bangsa Etiopia (Habsyah) yang
menggunakan istilah itu untuk merujuk sekumpulan Injil yang dibukukan. Dalam
tradisi awal Islam, istilah “mushhaf” kemudian menjadi istilah teknik
untuk merujuk “sekumpulan ayat-ayat Allāh yang dibukukan atau yang dijilid.”
Dalam literatur berbahasa Inggris, istilah mushhaf biasa disebut
“kodeks” (codex). Sejak masa Nabi, al-Qur′ān telah ditulis pada beragam
medium (papirus, lontar, parkemen). Sebagian dari sahabat mengumpulkan
ayat-ayat itu dan menjilidnya menjadi sebuah mushaf. Tapi, seperti sudah
disinggung di atas, pengumpulan al-Qur′ān menjadi sebuah mushhaf pada
masa Nabi tidak pernah sempurna, karena wahyu masih terus turun. Pada masa
Nabi, fragmen-fragmen al-Qur′ān lebih banyak dihafal ketimbang ditulis.
Para
sarjana Islam seperti Ibn Nadhīm dan al-Suyūthī menyebutkan antara 5 hingga 20
sahabat Nabi yang dikenal sebagai kolektor fragmen-fragmen al-Qur′ān dalam
bentuk hafalan.[3]
Penulisan ayat-ayat al-Qur′ān diyakini telah mulai sejak era Nabi di Mekah,[4] tapi
penulisannya secara lebih sistematis baru dimulai di Madinah, khususnya setelah
Nabi secara resmi menunjuk beberapa sahabatnya untuk melakukan tugas ini. Mu’āwiyah
ibn Abī Sufyān, Ubay ibn Ka’ab, Zayd ibn Tsābit, dan 'Abdullāh ibn Mas’ūd,
adalah nama-nama yang biasa disebut sebagai penulis wahyu di Madinah.
Al-Zanjānī menyebut sekitar 30-an nama lagi selain nama yang empat itu.[5]
Banyaknya
para penulis wahyu kemudian ini memunculkan berbagai spekulasi tentang adanya
sejumlah mushaf pada masa Nabi. Ahmad von Denver, salah seorang penulis sejarah
al-Qur′ān modern, meyakini paling tidak ada 23 mushhaf yang dialamatkan
kepada para penulis wahyu itu.[6]
Spekulasi tentang pengumpulan wahyu menjadi satu mushhaf itu mungkin
bisa diterima, tapi dengan catatan bahwa pengumpulan itu masih jauh dari
sempurna. Apa yang disebut “mushhaf” pada masa Nabi bukanlah al-Qur′ān dalam
versinya yang utuh, tapi sebuah upaya pengumpulan wahyu dalam satu bundel buku.
Hal ini
kemudian terbukti dengan beragamnya jumlah surah dalam setiap mushaf. Seperti direkam
oleh al-Suyūthī, mushhaf-mushhaf sahabat (seperti Ubay ibn Ka’b,
Ibn Mas’ūd, dan Ibn Abbās) memiliki jumlah dan susunan surah yang sangat
berbeda. Mushhaf Ubay misalnya mengoleksi 115 surah, sementara Mushhaf
Ibn Mas’ūd 108 surah dan Mushhaf Ibn Abbās 116 surah.[7]
Perbedaan jumlah surah itu disebabkan oleh berbagai faktor. Bisa karena adanya
penghitungan ganda terhadap surah, seperti yang dilakukan Ibn Mas’ūd dalam
menggandakan tiga surah menjadi satu, atau yang dilakukan oleh Ibn Abbās dalam
mengurai satu surah panjang menjadi beberapa nama surah lain yang baru, bisa
juga karena kealpaan, baik disengaja (karena kurang yakin akan keaslian suatu
surah) atau karena tidak sengaja (tidak ingat sama sekali). Singkatnya, bentuk
mushaf pada masa Nabi, jika memang ada, maka itu pasti jauh dari sempurna.
[1] Lihat misalnya Q.S. Al-Baqarah: 2 dan: 89, Āli 'Imrān: 3, an-Nisā:
136 dan al-A'rāf: 38.
[2] al-Suyūthī, Jalāl al-Dīn, al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur′ān,
Mesir: Mustafā al-Bābī al-Halabī, 1978, vol 1, hal. 69.
[3] Amal, Taufik Adnan, Rekonstruksi Sejarah al-Qur′ān, Yogyakarta: FKBA, 2001, hal. 130.
[4] Kisah terkenal tentang masuk Islamnya 'Umar ibn Khaththāb mungkin
bisa dijadikan contoh bahwa penulisan ayat-ayat al-Qur′ān telah dimulai sejak
awal sekali.
[5] Amal, Taufik Adnan, Rekonstruksi, hal. 132.
[6] Ibid, hal. 133.
[7] Ibid, hal. 160-180.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar